Sudah
diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihah? Isteri
shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati-hati setelah melihat air
matanya menganak sungai. “Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah
ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang Bunda tak bisa
mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Bunda kan
muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap
isteriku diselingi isak tangis. “Abi nggak ngerasain sih bagaimana
maboknya orang yang hamil muda…” Ucap isteriku lagi, sementara air
matanya kulihat tetap merebak.
Hamil
muda?!?! Bi…, siang nanti antar Bunda ngaji ya…?” pinta isteriku.
“Aduh, Mi… Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?”
ucapku. “Ya sudah, kalau Abi sibuk, Bunda naik bis umum saja,
mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,” jawab isteriku. “Lho, kok bilang
gitu…?” selaku. “Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala
Bunda gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah
berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Tapi
mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,” ucap isteriku lagi. “Ya sudah,
kalau begitu naik bajaj saja,” jawabku ringan.
Pertemuan
hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini
kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja
menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji.
Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara
belum selesai.
Kuperhatikan
sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya
indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. ”Wanita, memang suka
yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,” aku membathin.
Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit
sepasang sepatu indah.
Dug!
Hati ini menjadi luruh. “Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?” tanya
hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu
indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati
ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan
isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal.
Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. “Maafkan aku Maryam,” pinta
hatiku. “Krek…,” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas
menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil
menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna
baju dan jilbab Bundanya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti
itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan
Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu,
tapi isteriku belum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosok
tubuh berabaya gelap dan berjilbab hitam melintas. “Ini dia
mujahidahku!” pekik hatiku.
Ia
beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai
baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah
lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa
karena selama ini kurang memperhatikan isteri.
Ya,
aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong
baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan
kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak
kelebihanmu, wahai Maryamku. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah
dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang
isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik
di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” Sedang
aku? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar
menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku terlalu sering ngomel dan
menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya
Aku benar-benar merasa menjadi suami terzalim!
0 komentar:
Posting Komentar